Jumat, 26 Agustus 2011

MODUL BAHASA INDONESIA STIE MATERI 2

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia yang baik dan benar. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.

                                               Tujuan
      a. Mahasiswa/i mampu menerapakan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia
      b. Mahasiswa/i  memahami  Perkembangan Ejaan
      c. Mahasiswa/i memahami pengertian dan Ruang Lingkup Ejaan Yang  Disempurnakan

Masa lalu sebagai bahasa Melayu

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa[10] dan Pulau Luzon.[11] Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dankaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan disekitar  Sumatera, Jawa, dan  Semenanjung Malaya. Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur".[12] Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal.
 Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13] Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman.

Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
1.     Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
2.     Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
3.     Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
4.     Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

    Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:
1.     Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
2.     Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
3.     Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
4.     Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

      Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

     Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
    Perubahan:
Indonesia
(pra-1972)
Malaysia
(pra-1972)
Sejak 1972
Tj
ch
c
Dj
J
j
Ch
kh
kh
Nj
ny
ny
Sj
sh
sy
J
y
y
oe*
u
u

Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan
    bahasa Indonesia
1.         Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
2.       Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.[17]
3.       Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
4.       Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
5.       Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
6.       Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
7.       Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
8.       Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
9.       Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
10.    Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
11.    Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
12.    Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
13.    Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
14.    Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei DarussalamMalaysiaSingapuraBelandaJerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
15.    Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
16.    Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

2.1 Pengertian
Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya.Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau  kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan (EYD). EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan pada tahun 1947).
Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama seorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.
2.2 Ruang Lingkup Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.
1)      Pemakaian huruf  membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu :
Huruf Abjad
Huruf Vokal
Huruf Konsonan
Huruf Diftong
Gabungan Huruf Konsonan
Pemenggalan Kata

2)      Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi :
        Huruf capital atau Huruf besar
        Huruf miring

3)      Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa :
kata dasar
kata turunan
bentuk ulang
gabungan kata
kata ganti –ku, -kau, -mu, dan -nya
kata depan di, ke, dan dari
kata si dan sang
partikel
singkatan dan akronim
angka dan lambang bilangan.

4)      Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kosakata yang berasal dari bahasa asing.

5)      Pemakaian tanda baca (pugtuasi) membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan. Tanda baca itu adalah :
Tanda titik (.)
Tanda koma (,)
 Tanda titik koma (;)
Tanda titik dua (:)  
Tanda hubung (-)
Tanda pisah (--)
Tanda ellipsis (…)
Tanda tanya (?)
Tanda seru (!)
Tanda kurung ((…))
Tanda kurung siku ([ ])
Tanda petik ganda (“…”)
Tanda petik tunggal (‘…’)
Tanda garis miring (/)
Tanda penyingkat atau Apostrof (‘)

1. Pemakaian Huruf
a. Huruf Abjad
Abjad bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf berikut. Nama tiap huruf disertakan disebelahnya.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A a
A
J j
Je
S s
Es
B b
Be
K k
Ka
T t
Te
C c
Ce
L l
El
U u
U
D d
De
M m
Em
V v
Fe
E e
E
N n
En
W w
We
F f
Ef
O o
O
X x
Eks
G g
Ge
P p
Pe
Y y
Ye
H h
Ha
Q q
Ki
Z z
Zet
I i
i
R r
Er


b. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vocal terdiri atas lima huruf vokal (v), yaitu A, I, U, E, dan O.
Huruf Vokal
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
A
api
padi
lusa
e*
enak
petak
sore

emas
kena
tipe
I
itu
simpan
murni
O
oleh
kota
radio
U
ulang
bumi
ibu


            c. Huruf Konsonan
            Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf
b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
B
bahasa
sebut
adab
C
cakap
kaca
-
D
dua
ada
abad
F
fakir
kafir
maaf
G
guna
tiga
balig
H
hari
saham
tuah
J
jalan
manja
mikraj
K
kami
paksa
sesak
L
lekas
alas
kesal
M
maka
kami
diam
N
nama
anak
daun
P
pasang
apa
siap
q**
quran
furqan
-
R
raih
bara
putar
S
sampai
asli
lemas
T
tali
mata
rapat
V
varia
lava
-
W
wanita
hawa
-
x**
xenon
-
-
Y
yakin
payung
-
Z
zani
lazim
juz


            d. Huruf Diftong
            Didalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au dan oi.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
Ai
ain
syaitan
pandai
Au
aula
saudara
harimau
Oi
-
boikot
amboi


            e. Gabungan Huruf Konsonan
            Didalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny dan sy.
Gabungan Huruf Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
Kh
khusus
akhir
tarikh
Ng
ngilu
bangun
senang
Ny
nyata
hanyut
-
Sy
syarat
isyarat
arasy


f. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan Kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut :
a.       Jika ditengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua huruf vokal itu.
     Misalnya : ma-in, sa-at, bu-ah.
     Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata
     tidak dilakukan diantara kedua huruf itu.        
           Misalnya :
au-la                bukan              a-u-la
sau-da-ra         bukan              sa-u-da-r-a
am-boi             bukan              am-bo-i
6)      Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
            Misalnya :  
            ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir.
7)      Jika ditengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya :  
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makhluk
8)      Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya :
in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan   bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
misalnya :
Makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
catatan :
a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
            b. Akhiran-i tidak dipenggal. (lihat juga keterangan tentang tanda
                hubung, Bab V, pasal E, ayat 1 )
            c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan
                sebagai berikut.
                misalnya : te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi
        
3. Jika suatu kata terdiri dari atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat                       bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan dengan:
 (1) di antara unsur-unsur itu atau
 (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a,1b,1c dan 1d di atas.
       misalnya :  bio-grafi, bi-o-gra-fi,  oto-grafi, fo-to-gra-fi

Nama Diri
Cara penulisan nama diri (nama orang, lembaga, tempat, jalan, sungai, gunung, dan nama lainnya) harus mengikuti EYD, kecuali jika ada pertimbangan khusus yang menyangkut segi adat, hukum, atau sejarah.
Contoh pemakaian biasa :
Rumahnya di Jalan Pajajaran No.5.
Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.

Contoh pemakaian dengan pertimbangan khusus :
Pamanku dosen Institut Agama Islam Banten, Serang
Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908.

Untuk penggunaan huruf x berlaku ketentuan khusus sebagai
berikut.
(1)   Untuk penulisan nama diri, unsur kimia, istilah ilmu pengetahuan,
dan lambang dalam matematika, lambang huruf yang dipakai
adalah x.
             Misalnya ;
Alex, Mexico, Texas (nama diri)
Xenon, xantat (nama unsur kimia)
(2)   Untuk penulisan kata-kata biasa yang bukan nama diri, lambang
huruf yang dipakai adalah ks.
2. Penulisan Huruf

a. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
Misalnya :
 Selain buku juga penggaris yang dijual
 Dia hendak ke Sumatera

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
“Ibu bertanya”
“Kapan Anton pergi”

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan nama Tuhan, nama agama, dan kitab suci;
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
Allah, TuhanYesus, Sang Pencipta, MahaKuasa , Kepada-Mulah, Yang Maha Agung

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya :
“KapanBapak berangkat?” tanya Harto.
 Adik bertanya “itu apa, Bu?”
 Surat Saudara sudah saya terima.
 “Silakan duduk,Dik!” kata ucok.
5 . Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang  tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya :
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.
    Sudahkah Anda tahu?
   Surat Anda telah kami terima.
b. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
majalah Bahasa dan Kesastraan.
buku Negarakertagama karangan Pranpanca.
surat kabar Suara Karya.

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya :
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik divine et impera pernah merajalela di negeri ini.

3. Penulisan Kata
a.      Kata dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya :
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.

b.      Kata Turunan
         1) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
            Misalnya :
            Bergerigi, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

        2) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan  kata yang langsung mengikuti atau mendahului.
           Misalnya :
           Diberi tahu, beritahukan
           Bertanda tangan, tanda tangani
           Berlipat ganda, lipat gandakan
        3) jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,   unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
menggarisbawahi                     menyebarluaskan
dilipatgandakan                       penghancurleburan
       4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu   ditulis serangkai.

           Misalnya :
adipati                                        mahasiswa                              pancasila
telepon                                       swadaya                                  tritunggal

c.       Bentuk Ulang dan Kata Ulang
Bentuk ulang dan kata ulang ditulis secara lengkap dengan  menggunakan kata tanda hubung.
Misalnya : Anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, dibesar- besarkan, gerak-gerik, huru-hara, kupu-kupu, laba-laba, lauk-pauk.

d.      Gabungan Kata
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya :
duta besar, kerja sama, kereta api cepat, meja tulis,
         orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.

e.       Kata Ganti ku, kau, mu, dannya
Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk sigkat dari kata aku dan engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
aku = aku bawa, aku ambil
ku = kubawa, kuambil
engkau = engkau bawa, engkau ambil
kau  = kaubawa, kauambil
Misalnya :
Bolehkah aku ambil jeruk ini satu ?
Kalau mau, boleh engkau baca buku itu.
Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini.

Bolehkah kuambil jeruk ini satu?
Kalau mau, boleh kaubaca buku itu.

Kata ganti ku dan mu sebagai bentuk singkat dari aku dan kamu,  ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
kamu = sepeda kamu
mu = sepedamu
aku = rumah aku
ku = rumahku
Kata ganti nya selalu ditulis dengan kata yang mendahului.
nya = bukunya
Misalnya :
Bolehkah aku pakai sepeda kamu sebentar?
Sepedamu lebih kokoh dari sepedaku.
f.       Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali didalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti,kepada dan daripada .
          Misalnya :
Saya sudah makan di restoran.
Ibuku sedang ke luar kota.
Ia pantas tampil ke depan
g.      Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya :
Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.


h.      Partikel
1.      Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
Bacalah buku itu baik-baik.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Apatah gunanya bersedih hati?

2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

i.        Singkatan dan Akronim

I.                   Singkatan
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
1.      Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
Muh. Yamin
Suman S.
S. E.                Sarjana ekonomi
Bpk.                Bapak
Sdr.                 Saudara
S. Kar              Sarjana karawitan

2.      Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
DPR                Dewan Perwakilan Rakyat
            PGRI               Persatuan Guru Republik Indonesia
            KTP                 Kartu Tanda Penduduk

3.      Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya :
Dll.              Dan lain-lain
Yth.                        Yang terhormat
a.n.              atas nama
u.p.              untuk perhatian

4.      Lambing kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
Cu               kuprum
Kg               kilogram

II.                Akronim
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

1.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
ABRI              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN                Lembaga Administrasi Negara

2.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf capital.
Misalnya :
Akabri             Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Iwapi               Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

3.      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
pemilu             pemilihan umum
tilang               bukti pelanggaran

j.        Angka dan Lambang Bilangan
1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Didalam tulisan lazim digunakan angka arab atau angka romawi.
Angka Arab          : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi     : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M (1.000.000).

2.      Penulisan lambing bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a.       Bilangan utuh
Misalnya :
Dua belas                                12
Dua ratus dua puluh dua         222
b.      Bilangan pecahan
Misalnya :
Setengah                                 ½
Satu persen                              1%

3.      Penulisan lambing bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya :
Paku Buwono X
Paku Buwono ke-10
Paku Buwono kesepuluh
Bab II
Bab ke-2
Bab kedua

4.      Penulisan lambing bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.
Misalnya :
Tahun ‘50-an                     atau                 tahun lima puluhan
Uang 5000-an                   atau                 uang lima ribuan
Uang lima 1000-an            atau                 uang lima seribuan

4.   Penulisan Unsur Serapan

        Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti sanskerta, arab, portugis, belanda, atau inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam Bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks Bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Contoh kaidah yang berlaku bagi unsur serapan :
aa menjadi a
Paal                         pal
Baal                                    bal
ae menjadi e
aerobe                     aerob
haematite                hematite
q menjadi k
aquarium                 akuarium
equator                    ekuator
rh menjadi r
rhythm                    ritme
rhombus                  rombus
th menjadi t
methode                  metode
thrombosis              thrombosis
dsb.

5.   Pemakaian Tanda Baca

a.      Tanda titik (.)

1.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya :
Ayahku tinggal di Korea.
Impianku menjadi musisi.
2.      Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya :
III.
A.
1.1.
3.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya :
24.000
13.000

b.      Tanda koma (,)

1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya :
Saya membeli baju, tas, dan sepatu.
Korea, jepang, yunani, spanyol, paris, inggris, dan las vegas.
2.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya :
Saya ingin pergi, tetapi hari itu ujian.
Piano bukan alat music favorit saya, melainkan biola.
3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya :
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
4.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya :
Kata Ibu, “saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

c.       Tanda titik koma (;)

1.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya :
Malam semain larut;pekerjaan belum selesai juga.
2.      Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya :
Ayah menonton televisi; Ibu sibuk memasak; Adik mendengar music; saya sendiri asyik mengerjakan tugas.


d.      Tanda titik dua (:)

1.      Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya :
Kita sekarang memerlukan alat tulis : pensil, penghapus, dan penggaris.
Hanya ada dua hasil ujian kita itu : lulus atau tidak lulus.
2.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya :
Ketua              : Kim Jae Joong
Sekretaris        : Kim Jun Su
Bendahara       : Sim Chang Min

e.       Tanda hubung (-)

1.      Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya :
Disamping cara itu ada ju-ga cara baru.


2.      Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya :
Anak-anak
Berulang-ulang
3.      Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya :
p-e-n-y-a-n-y-i
26-01-1986

f.       Tanda pisah ( - )

1.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang member penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya :
Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.      Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai’.
Misalnya :
1986-1990
Tanggal 25-26 Januari 1986
Korea-Jepang

g.      Tanda Ellipsis ( … )

1.      Tanda ellipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya :
Kalau begitu … ya, marilah mulai pindah.
2.      Tanda ellipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya :
Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

h.      Tanda Tanya (?)

1.      Tanda Tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya.
Misalnya :
Kapan ia berangkat?
Kemana ia pergi?
2.      Tanda Tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya :
Ia dilahirkan pada tahun 1992 (?)
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang

i.        Tanda seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya :
Alangkah seramnya peristiwa itu!
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Merdeka!

j.        Tanda kurung ( (…) )

1.      Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya :
Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
2.      Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya :
faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

k.      Tanda kurung siku ( […] )

1.      Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya :
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemersik.
2.      Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya :
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya [lihat halaman 26] tidak dibicarakan) perlu dibentangkan di sini.

l.        Tanda petik (“…”)

1.      Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya :
“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya :
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
3.      Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya :
Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

m.    Tanda petik tunggal ( ‘…’ )
1.      Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya :
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

n.      Tanda garis miring ( / )

1.      Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya :
No. 7/PK/1973
Jalan kramat II/10
2.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
Misalnya :
Mahasiswa/mahasiswi
Harganya Rp 150,00/lembar.

o.      Tanda penyikat atau Apostrof ( ` )

Tanda penyikat atau apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya :
Malam ‘lah tiba           (`lah = telah)
1 Januari `86                (`86 = 1986)









Lampiran
Soal :
1.      Jelaskan Pengertian dari Ejaan!
2.      Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, sebutkan 5 aspek!
3.      Bagaimana pemenggalan kata dari :
a.       Kesetiaan
b.      Metropolitan
c.       Kemerdekaan
4.      Kapan Huruf Kapital dipakai dalam penulisan huruf?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar